Aku Ketua OSPEK JURUSAN June 17, 2008
Posted by baitapat in My Articles.1 comment so far
Satu hal lagi yang membuat aku tak pernah berhenti untuk mengucapkan syukur alhamdulillah atas segala limpahan karunia-Nya. Aku terpilih menjadi ketua OSPEK Jurusan 2008. Rasanya memang biasa saja tapi bagiku itu luar biasa karena aku belum ikut OSPEK tahun lalu. So, sama sekali belum ada gambaran tentang OSPEK itu sendiri. Ini hal kedua sebagai ketua dalam event besar
yang belum punya pengalaman sama sekali terhadap kegiatan itu. Sebelumnya aku pun menjadi ketua Seminar N
asional Budaya dengan mendatangkan Kang Abik “Ayat-Ayat Cinta”. Acara itu tergolong sukses versi warga U
NY. Sedangkan aku belum bisa menilai bahkan membandingkan event itu. Karena itu adalah pengalamn
pertama ku menangani acara besar. Setidaknya Seminar itu bisa ku jadikan batu pijakan untuk melangkah ke depan.
hidup adalah ibadah, so luruskan niat raih kemenangan-Nya.
Gejolak Yogya June 7, 2008
Posted by baitapat in My Poetry.1 comment so far
Yogyakarta…kota penuh gejolak
Bukan suara-suara gagak yang menjalak
Tapi manusia-manusia yang berteriak
leher-leher mereka mencekak
Gedung-gedung tinggi
Liar…
Lebih liar dari pohon-pohon yang tumbang
Satpam-satpam gedung
lebih mengerikan
dari iblis-iblis hutan Yogyakarta
Tak ku dengar lagi
Burung pagi bernyanyi
Ayam hutan berkokok
Daun-daun bersiul pelan…semilir
Hanya mulut siluman-siluman besi
yang tak bisa terkatup
mengisi ruang kuping
Pergolakan hidup yang keras
Hasrat-hasrat dunia memanjakan
hati orang-orang culas
menambah Yogya menjadi panas
Panas diri….
Panas hati…
Meranggaskan rambut-rambut
memenuhi nafsu hidup
Ingin ini ingin itu ingin yang lain
Tak kuasa adanya
Rasanya memang harus mencuri
kalau tak mau gigit jari
Kalau tak mau botak di dahi
KKN pun jadi
racun penghilang jati diri…
BaitAPat,Boement
2 Juni 2008
Ajar Pradika A. Tur
BBM naik, apa yang turun hayo….? June 6, 2008
Posted by baitapat in My Articles.Tags: Add new tag
1 comment so far
Belum lama aku langkahkan kaki ini untuk pulang menemui kedua orang tua ku di Kebumen. Biasalah dalam rangka berusaha menjadi anak yang diidamkan orang tua, anak yang berbakti kepada orang tua. Selain itu juga ada misi yang tak kalah penting, yakni mohon doa restu kepada ortu bukan untuk nikah tetapi karena tak lama lagi aku akan menghadapi ujian.
Pukul 11.oo a.m. aku beranjak dari kota ini, Yogyakarta, kota yang penuh dengan gejolak. Tak hanya secara fisik, tertuang dalam persaingan atau gengsi kepemilikan barang-barang mutakhir, tapi juga secara batiniah. Langkahku terasa hambar dari kos-kosan hingga Fakultas Peternakan UGM tempat dimana aku menunggu bus kota jurusan Gamping. Pikiranku melayang dan berteduh di bawah awan putih guna melindungi diri dari sengatan mentari. Dan melancarkan imaji-imaji terkini. Ya…BBM naik. Inilah awal waktu aku pulang dalam kondisi yang telah berubah segalanya, terutama BBM. Akankah ongkos naik? Berapa? itu yang terpikirkan olehku. Jelas, ongkos pasti naik. Dan terbukti benar. Ongkos kepulanganku hingga ke Kebumen naik Rp 2500,-.
Masih dalam kondisi yang sama ketika aku berada dalam bus AKAP PO UTAMA. Ruangannya sejuk dan menyejukkan seluruh rongga pikirku, otakku. Aku duduk disamping seorang bapak tua yang mengaku petani di Desa Bener, Purworejo. Aku ngobrol dengannya apa pun yang bisa diobrolkan. Hingga obrolan terbawa ke kondisi saat ini. Katanya, petani dalam kondisi terjepit. Bagaikan makan buah SIMALAKAMA. DI satu sisi petani ingin menaikkan harga beras, konsumen berteriak-teriak. Di sisi lain kalau harga tidak naik, hasil penjualan tidak bisa mencukupi biaya operasional bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun tak ada. Wajahnya menampakkan kekecewaan yang mendalam. Aku tak bisa berkata apa pun sebagai mahasiswa yang katanya “AGENT OF CHANGE”. Bukan karena aku tak ada hal yang ingin ku sampaikan. Tetapi aku tak sampai hati untuk mengatakan melihat kondisi beliau yang nampakknya tidak siap untuk menerima.
Tidurlah yang menghentikan penbicaraan kami. Tidur nampaknya membuatnya melepas semua beban berat yang dipikulnya. Wajahnya yang lugu tersorot sinar mentari yang mencoba mencuri pandang dari balik tirai jendela. Dunia tak segelap yang dibayangkan.
Aku beralih fokus pada pengamen di hadapanku yang menyanyikan lagu perdamaian. Aku lupa judul lagu itu tetapi aku kenal betul lagu itu. Aku mengikuti iramanya dengan ketukan-ketukan kecil kakiku. Menghibur setiap jiwa yang mendengarkannya. Dandanan yang khas dimunculkan sebagai sosok pengamen mengisi ruang penglihatanku. Hanya saja rambutnya yang gimbal memberi kesan tersendiri bagiku. Aku terhibur olehnya.
Lagu selesai dan ku siapkan uang sebagai balas jasa. terbersit sejenak, APAKAH ONGKOS UNTUK PENGAMEN JUGA NAIK? pikiran itu masih meracuniku. Hingga kini, hingga aku menulis kata-kata ini. Pasalnya aku memberikan ongkos yang sama seperti saat BBM belum naik. Apakah aku salah? Keterlaluan? Tak manusiawi? Atau apalah kata yang sesuai untuk mendeskripsikan hal itu…
Dia tetap diam dalam kebahagiaan wajahnya yang bisa kutangkap auranya. Bahagia. Benarkah? Bapak tua di sampingku saja mengeluh. Adakah dia pun mengeluh?
Wahai kawan seperjuangan, apakah kata yang pantas kita ucapkan kepada pimpinan kita, presiden Indonesia menyikapi dua hal ini?
Hello world! June 4, 2008
Posted by baitapat in Uncategorized.add a comment
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
